31 Mei 2007

Visi Kota Palu 2020: Realistis atau Utopis?

Opini Radar Sulteng, 31 Mei 2007

Muh. Masykur *


... ketika visi tidak disandarkan dengan realitas sosial yang konkret, maka hanya sekedar mimpi….

Palu 2020 Dihadirkan dalam Bentuk Animasi: merupakan petikan judul dalam sebuah pemberitaan di Surat Kabar Harian (SKH) Radar Sulteng (edisi Selasa, 29/5/07) mengenai Rencana Program Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Pemerintah Kota Palu yang didalamnya memuat visi pembangunan Kota Palu. Menariknya karena visi tersebut akan ditampilkan dalam bentuk karya audio visual yang diberi nama ‘Proyek animasi Kota Palu 2020’ dari berbagai dimensi yang meliputi kawasan industri, Teluk Palu, pariwisata, jembatan Palu IV, dan lainnya.
Setelah membaca berita tersebut secara tidak sengaja alam sadarku seketika terbawa ke dalam suatu hayalan yang nun jauh disana-- entah alam apa namanya--. Hayalan ini seakan memaksaku untuk membayangkan keindahan wajah Kota Palu di tahun 2020.



Muh. Masykur*

Visi Kota Palu 2020; Realistis atau Utopis?
Muh. Masykur
Palu 2020 Dihadirkan dalam Bentuk Animasi” merupakan petikan judul dalam sebuah pemberitaan di Surat Kabar Harian (SKH) Radar Sulteng (edisi Selasa, 29/5/07) mengenai Rencana Program Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Pemerintah Kota Palu yang didalamnya memuat visi pembangunan Kota Palu. Menariknya karena visi tersebut akan ditampilkan dalam bentuk karya audio visual yang diberi nama ‘Proyek animasi Kota Palu 2020’ dari berbagai dimensi yang meliputi kawasan industri, Teluk Palu, pariwisata, jembatan Palu IV, dan lainnya.
Setelah membaca berita tersebut secara tidak sengaja alam sadarku seketika terbawa ke dalam suatu hayalan yang nun jauh disana-- entah alam apa namanya--. Hayalan ini seakan memaksaku untuk membayangkan keindahan wajah Kota Palu di tahun 2020.

Kota yang akan coba bangun dan merangkak menjadi pusat industri dan perdagangan. Sebagai kota yang menjadi pusat segalanya, sudah tentu akan dibarengi dengan penyediaan segala bentuk fasilitas dan sarana untuk menampung perkembangan tenaga pekerja dan warga masyarakat lainnya. Dimana seluruh produk kebijakan politik di produk di sini. Seperti kota-kota maju lainnya, akan menjadi muara bagai setiap mobilitas penduduk, mengakibatkan peningkatan populasi penduduk dan urbanisasi. Terbayangkan situasi kota akan menjadi sesak dan padat. Sehingga untuk menghilangkan rasa lelah, jenuh dan letih setelah bekerja seharian di pabrik dan tempat kerja lainnya teratasi dengan penyediaan sarana pariwisata yang tersedia di Teluk Palu. Sebuah penerawangan kota yang ideal.
Masih dalam perjalanan dunia maya--karena teringat dengan sebuah kata ‘animasi’ di pemberitaan tersebut-- secara tidak sengaja terlintas film animasi. Mungkin karena saking banyaknya film animasi yang sering di tayangkan di TV sehingga judulnya pun sampai terlupa. Singkatnya dalam scenario yang ditampilkan masing-masing film memiliki perbedaan, satu sisi bercerita tentang perkembangan peradaban dalam aspek positif dan terjadinya dehumanisasi, pada sisi yang lainya. Namun layaknya sebuah film, toh juga pada akhirnya fiktif. Dan hayalan pun terhenti sampai disini.
Membaca salah satu koran nasional, secara tidak terduga entah di sebabkan oleh apa, di koran tersebut juga terdapat sebuah berita yang hampir sama secara prinsipil memuat tentang visi Indonesia dengan judul “Tentang Mimpi Besar Indonesia” dalam visi 2030 perekonomian Indonesia akan menjadi kekuatan kelima terbesar di dunia setelah China, India, Amerika dan Uni Eropa. Di tahun tersebut jumlah penduduk diprediksi sebesar 285 juta jiwa, PDB mencapai US$ 51 trilun dan pedapatan perkapita sebesar US$ 18.000 per tahun. Menurut Romo Pujasumarto, visi tersebut ketika diperhadapkan dengan realitas actual, terbentang jurang yang sangat lebar. Ketika kemiskinan diukur dengan biaya hidup sekitar Rp. 18.000 per hari maka jumlah orang miskin Indonesia menjadi 108,78 juta atau sekitar 49 persen penduduk Indonesia. Sementara pada Mei 2007, dalam laporan akhirnya, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melaporkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia yang tertinggi di antara Negara-negara ASEAN.
Dari sini, visi pembangunan memang sepatutnya di letakkan dalam kerangka dan proyeksi yang sudah tentu menjadi sesuatu yang baik akan dituju. Oleh karena visi merupakan sebuah mimpi indah. Namun ketika visi tidak disandarkan dengan satu realitas social yang kongkrit dan riil akan menjadi utopis dan hanya sekedar manjadi mimpi. Terkadang kita baru dapat tersadar ketika realitas ternyata berkata lain.
Setiap kita pasti akan terkesimak melihat wajah Kota Palu dalam beberapa tahun terakhir, yang memperlihatkan banyak nuasa perbedaan dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. Satu sisi kita patut mengapresiasi beberapa gebrakan fenomenal dilakukan oleh pemerintah daerah. Memang sebagai satu dinamika, secara dialektis sudah tentu akan terjadi, cuma tergantung prosesnya cepat atau lambat. Diawali dengan satu gebrakan prestisius --mega proyek modernisasi--sebagaimana yang tergambar dalam visi Kota Palu 2020 tersebut. Satu persatu industri bertaraf tinggi telah dan akan terpancang menghiasi kota beserta dengan infrastruktur pendukungnya, seperti jalan, jembatan, energi yang bersumber dari migas dan listrik, serta lain sebagainya. Perubahan ini juga akan menciptakan pergeseran nilai-nilai social dan ekonomi masyarakat sebagai dampak langsung dari perubahan yang ditimbulkan.
Seperti halnya dengan pemeritah di Negara-negara dunia ketiga yang saat ini menyongsong datangnya tata dunia baru yang disebut dengan nama era globalisasi dan atau neo liberalisme. Langkah serupa juga dilakukan oleh pemerintah daerah, birokrasi, badan-badan usaha Negara dan swasta, dunia pendidikan, kesehatan, industri telekomunikasi, jasa serta sampai pada regulasi dan perundang-undangan. Namun satu hal yang terlupakan adalah hakikat sesungguhnya yang terdapat dibalik fenomena tersebut. Dampak nyata yang ditimbulkan dari relasi social terhadap problem-problem ekonomi yang terjadi saat ini. Dalam berbagai laporan disebutkan problem kemiskinan dan pengangguran masih menjadi masalah utama dan secara kuantitas terus mengalami peningkatan bahkan sulit untuk ditekan, baik secara nasional maupun ditingkat local. Sehingga menjadi tidak realistis jika dalam visi yang digambarkan tidak disandingkan dengan fakta-fakta social tersebut. Akibat kurangnya lapangan kerja dan minimnya sarana dan fasilitas social yang harusnya disediakan sehingga fenomena warga kota yang tidak memiliki tempat tinggal semakin nampak. Kondisi ini kontras bila dibanding dengan tahun sebelumnya
Sisi gelap ini, mesti juga digambarkan secara obyektif tanpa ada perlakuan diskriminatif dan ketidakadilan social. Nilai-nilai social yang kian dipudarkan dengan masuknya era kompetisi sebagai bawaan langsung modernisasi dan libelisasi ekonomi dan politik. Sementara bila kita coba menelusuri jejak-jejak langkah kaum yang selama ini termarjinalkan, disana akan ditemukan potret hitam dari modernisasi, harga keringat buruh yang dibayar murah, antrian panjang para pencari kerja, kurangnya jaminan social dan hari tua. Disaat sebagai besar warga kota masih terlelap dalam tidur, tidak jauh di luar, di pelataran jalan dan emperan toko, beberapa warga terus bekerja untuk bisa bertahan hidup. Mereka berkelahi dengan dingin malam mengumpulkan barang-barang sisa-sisa makanan dan minuman, demi untuk bisa ditukarkan dengan senilai uang yang jauh dari cukup untuk bisa bertahan hidup. Ketika fajar terbit di ufuk timur kembali mereka melakukan hal yang sama. Apa kata yang pantas di sebutkan bagi mereka. Sampai saat ini, saya masih sulit menemukan padanan kata yang baik dan layak disebut selain seperti sebutan orang pada umumnya. Tetapi dengan tidak mengurangi makna nilai-nilai kemanusian, terpaksa saya menyebutnya dengan kata pemulung, peminta-minta dan pengemis, karena begitulah orang-orang menyebutnya.
Adakah yang salah bagi mereka hanya karena keterpaksaan atas kondisi hidup seperti itu, sebuah system ekonomi dimana kekuatan modal menjadi segala-galanya. Apa yang salah dari program pemerintah, sementara visi yang telah dibuat sangat indah bila dilihat. Adakah naluri social kita tergugah ketika seorang ibu dengan dua orang anaknya tertidur di emperan toko hanya karena mereka tidak punya tinggal dan seorang pemulung meninggal dalam rumahnya tanpa seorang pun melihatnya. Lalu dengan mengatas namakan lembaga panti asuhan dan pembangunan rumah ibadah puluhan bahkan ratusan anak-anak menjajaki kota demi untuk mendapat sumbangan dari para dermawan. Terlepas dari sinyalemen ada yang mensponsori tapi mengapa terjadi dengan modus seperti itu. Dimana peran Negara sebagai satu instutisi social?
Realitas social ini dengan sengaja dan mungkin sedikit emosional tergambarkan karena memang fakta ini coba untuk menggugah. Bila hari ini secara kuantitas jumlahnya masih mudah dihitung dengan jari, mungkin ditahun selanjutnya akan bertambah lebih banyak lagi. Jika tidak dari sekarang di antisipasi. Tentu kita mengidamkan sebuah Kota yang tidak hanya sekedar nampak secara fisik terlihat megah tapi dibalik itu terdapat barisan rakyat hidup dalam kondisi termajinalkan. Semoga kota idaman tidak hanya terdapat dalam mimpi.

Muh. Masykur, Koordinator Divisi Demokratik Governance PBHR Sulteng)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

http://markonzo.edu Incredible site!, ashley furniture price [url=http://jguru.com/guru/viewbio.jsp?EID=1536072]ashley furniture price[/url], cilayq, allegiant air verdict [url=http://jguru.com/guru/viewbio.jsp?EID=1536075]allegiant air verdict[/url], ubdrd, pressure washers info [url=http://jguru.com/guru/viewbio.jsp?EID=1536078]pressure washers info[/url], owamtsa, dishnetwork blog [url=http://jguru.com/guru/viewbio.jsp?EID=1536080]dishnetwork blog[/url], 5438, adt security preview [url=http://jguru.com/guru/viewbio.jsp?EID=1536076]adt security preview[/url], fbgpnqx,

Senin, Maret 01, 2010
 

©2011PBHR - SULTENG | by TNB